Raup Jutaan Rupiah dari Bisnis Kue Kering

 

Kue-kue kering (Sumber foto: dokumen pribadi)


Saat Hari Raya Idul Fitri berbisnis kue kering menjadi suatu hal yang bisa mendatangkan keuntungan jika dijalani secara serius. Seperti yang dirasakan Puspita Sari, remaja lulusan sekolah kejuruan Tata Boga asal Kota Jakarta itu mampu meraup omzet jutaan rupiah dari bisnis pembuatan dan penjualan kue kering yang dilakoninya.

Setiap mendekati lebaran, sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia untuk menyajikan kudapan khas seperti kue kering yang selalu menghiasi setiap rumah saat menerima tamu yang akan silaturahmi dan halal bihalal.  

Saat berkumpul dengan keluarga dan kerabat, kue kering menjadi hidangan yang sangat dinanti-nanti sebagai teman pembicaraan ngobrol santai. Tak jarang pula, saat berkunjung ke rumah orang lain, kue kering dijadikan oleh-oleh atau hampers yang dibawa sebagai tanda kebersamaan dan saling menghargai.

Hal ini membuat sejumlah produsen kue kering menjadi banjir pesanan. Salah satunya diungkapkan oleh Pemilik Tata-Dani Cake and Cookies, Puspita Sari alias Tata. Membuka usaha sejak duduk di bangku sekolah kejuruan, warga Kalideres, Jakarta Barat ini mengaku memang memiliki bekal keahlian di bidang pastry.

“Awal mulanya dari SMK, saya ada mata pelajaran pastry. Kemudian pernah magang dan kerja di hotel bintang 3 sampai 5, pernah di hotel Aston Kartika Grogol Jakarta Barat sampai Raffles Hotel Kuningan Jakarta Selatan, bagian pastry,” ujarnya.

Dari pengalamannya tersebut, ia lantas mencoba menawarkan ke orang-orang terdekat lebih dahulu melalui media sosial Whatsapp dengan memposting status open order kue kering khas lebaran dengan beragam jenis varian mulai dari nastar, lidah kucing, kastengel, sagu keju, kue kacang, putri salju, semprit, dan chocochips cookies dengan pesanan awal mencapai 40 toples.

Harga kue kering yang dijualnya berkisar antara Rp 70 ribu hingga Rp 105 ribu per toplesnya dengan berat sekitar 500 gram.. Harga itu meningkat dari tahun sebelumnya di kisaran Rp 65 ribu hingga Rp 100 ribuan. Sementara untuk parcel mulai dari Rp 250 ribu dengan beberapa jenis kue.

Omzet Naik 50 Persen

Tahun ini, pesanan kue keringnya kian bertambah hingga mencapai 200 toples. Dengan memproduksi ratusan toples kue kering dalam satu bulan, Dia bisa meraup omzet hingga jutaan rupiah.

"Omzet yang diperoleh bisa sampai Rp 9 juta kalau Lebaran kayak gini. Kalau momen lain, seperti Natal, Imlek, dan Lebaran Haji paling Rp 3 juta, tidak seramai Lebaran Idul Fitri," kata Tata.

Namun, di satu sisi, Dia mengaku menaikkan sedikit harga kue kering yang dijualnya menjelang Lebaran tahun ini. Imbas meningkatnya harga bahan baku pembuatan kue menjelang hari raya besar.

Sistem Pembayaran Digital

Untuk memperlancar penjualan kue kering lebaran yang dibuatnya hingga ratusan toples, ada dua cara pembayaran yang bisa dilakukan. Pertama, sistem pembayaran melalui transfer bank atau mobile banking alias non tunai, dikhususkan jika pembeli yang memesan jarak lokasinya jauh.

Tak jarang, sebagian pembeli juga menggunakan transaksi non tunai ini karena tidak perlu repot-repot lagi mencari uang tunai untuk membayar pesanannya.

Namun, tidak semua pembeli paham terhadap alat pembayaran elektronik ini dan lebih menyukai pembayaran secara manual yakni sistem tunai. Maka dari itu, sistem pembayaran tunai tetap bisa digunakan asal membayarnya dengan jumlah total uang pas sesuai pesanan.

Perkembangan bisnis kue kering lebaran, meski hanya satu tahun sekali dan musiman, memang tidak cukup hanya melaui tunai saja meski memang masih dilakukan untuk pembelian langsung. Minimal transfer antar bank menggunakan mobile banking adalah salah satu cara mempermudah pembeli bertransaksi.

Sempat Terpuruk Karena Pandemi Covid-19

Saat pandemi Covid-19 melanda, bisnis usaha kue keringnya sempat mengalami penurunan yang signifikan. Biasanya awal puasa pesanan kue lebaran sudah mencapai 50 toples dari konsumen setianya. Namun, di awal puasa saat pandemi Covid-19 hadir, pesanan kue yang masuk baru 20 toples, sehingga bisnisnya menurun drastis lebih dari 50 persen.

Padahal, Dia mengklaim tidak menaikkan harga jual kue lebaran yang tiap tahun harga bahan baku selalu naik, agar bisa menarik minat konsumennya untuk berbelanja di saat kondisi sulit akibat wabah corona. Nyatanya, cara ini dirasa belum efektif untuk meningkatkan angka penjualan bisnisnya.

Dia memaklumi hal itu karena banyak konsumen setianya yang mengalami penurunan pendapatan akibat wabah virus corona.

Namun, saat pandemi Covid-19 mulai tertangani meskipun belum sepenuhnya hilang. Dia langsung giat mendorong lagi bisnis kue keringnya dengan inovasi baru melalui penjualan berbasis digital di media sosial hingga menargetkan mampu meraih kembali kejayaannya pada tahun sebelum pandemi.

Tradisi budaya kue kering khas lebaran nyatanya memiliki dampak postif seperti yang dirasakan oleh Tata, Dia salah satu contoh bentuk kegigihan perempuan mandiri masa kini yang memanfaatkan kesempatan momen Lebaran untuk berbisnis dengan capaian omzet penjualan hingga jutaan rupiah.

Salsa Dwi Novita

Hi, saya Salsa Dwi Novita seorang mahasiswi jurnalistik semester 5 di Politeknik Negeri Jakarta yang mencari peran di industri media. Saya memiliki kepribadian yang antusias, dapat diandalkan, bertanggung jawab, kreatif, dan santai. Saat ini saya sedang magang dan mengemban pengalaman di posisi content sport intern Bola.com & Bola.net. Sebuah Platform media online olahraga sepak bola nomor satu di Indonesia. Selain meminati karya jurnalistik, saya juga memiliki kemampuan di bidang design dan video editing. Saya sudah memiliki portofolio design cover teks berita olahraga khusunya sepak bola lebih dari 100 design yang sudah dimuat di media Bola.com, Bola.net, dan Liputan6. Sementara video editing, saya sudah memiliki portofolio lebih dari 30 postingan video berita yang dimuat di media Bola.com, Bola.net, Vidio, dan Enam+.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama