![]() |
| Foto dikutip dari Liputan6.com |
Akhir - akhir ini masyarakat seakan tak henti disuguhkan konten seputar flexing alias pamer kekayaan oleh mereka yang dianggap tajir melintir di sosial media. Mereka digadang-gadang sebagai sosok inspiratif karena memiliki kekayaan fantastis di usia muda. Mulai dari pamer pakaian bermerek, rumah mewah, mobil sport, liburan di luar negeri, hingga jet pribadi seakan menjadi barang wajib yang perlu dipertontonkan ke masyarakat.
Fenomena flexing yang semakin marak dengan konten pamer kekayaan menjadi salah satu konten yang cukup populer dan banyak diunggah di dunia maya. Konten pamer kekayaan tampaknya menjadi kesenangan tersendiri bagi para pemilik akun media sosial dan juga penontonnya, terutama bagi warganet Indonesia.
Pakar komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Deden Mauli Darajat mengatakan, ada beragam motivasi seseorang memamerkan harta bendanya melalui sosial media. Salah satunya untuk mendapat pengakuan diri, menunjukkan bahwa dirinya adalah orang yang kaya. Lebih dari itu, menurut Deden, orang yang pamer harta kekayaan di media sosial didorong keinginan untuk menunjukkan pada orang lain bahwa orang yang memiliki harta bisa melakukan apa pun.
Hal itu menunjukkan bahwa perilaku atau tindakan flexing tersebut biasanya berkebalikan dengan orang yang memang kaya secara sungguhan. Orang kaya sungguhan tidak ingin dirinya menjadi pusat perhatian. Dalam pengantar buku Hukum dan Perilaku: hidup baik adalah dasar hukum yang baik ada pepatah yang berkata “Proverty screams, but wealth whispers” artinya kemiskinan menjerit, tetapi kekayaan berbisik (Rahardjo, 2009).
Berkaca pada pepatah di atas, bahwa orang kaya yang sesungguhnya tidak akan pamer karena semakin kaya seseorang, semakin membutuhkan privasi dalam kehidupannya. Itulah sebabnya, orang yang benar-benar kaya akan tampil lebih sederhana. Contohnya Bill Gates, Jack Ma, Mark Zuckerberg, dan lainnya. Mayoritas dari mereka hidup dalam kesederhanaan bahkan dikenal sebagai orang yang dermawan. Pada dasarnya, kualitas hidup tidak ditentukan oleh banyaknya harta yang dimiliki.
Namun, sejak kemunculan TikTok dan Reels Instagram yang algoritmanya mampu dengan cepat membuat konten viral, pamer kekayaan menjadi hal yang trendy dan mampu menarik lebih banyak viewers dan likes. Perilaku hedonisme seakan telah menjadi sesuatu hal lazim di masyarakat yang diperlihatkan dengan cara langsung maupun lewat sosial media.
Zaman sekarang, gaya hidup bukan lagi hal semata dalam pemenuhan kehidupan atau kebudayaan pada benda, tetapi sebagai ajang untuk panggung sosial.
Beberapa waktu lalu, terdapat konten viral dari Ibnu Wardani seorang Tiktokers asal Indonesia dengan pengikut 22 juta orang tersebut mengunggah konten estimasi biaya untuk liburan ke Jepang bersama istrinya secara berlebihan atau overclaim dengan menyebutkan budget jalan-jalan ke Jepang yang jauh di atas harga normal. Dalam kontennya, ia menyebut bahwa biaya taksi di Jepang yang baru dibuka pintunya saja seharga Rp1,4 juta dan memperkirakan total biaya yang diperlukan untuk liburan ke Jepang mencapai setengah miliar rupiah.
Ada juga kasus flexing kepemilikan jet pribadi yang dilakukan oleh Gilang Widya Pramana alias juragan 99 seorang pengusaha skincare ternama di Indonesia yang disebut sebagai crazy rich Malang. Dalam konten yang dipertontonkan kepada publik, ia kerap kali memamerkan jet pribadi yang dipakainya untuk kendaraan antar-jemput dalam pekerjaan maupun liburan bersama para artis tanah air, salah satunya Raffi Ahmad.
Fakta baru terungkap, bahwa Gilang
memang bukan pemilik asli jet pribadi yang dipamerkannya, hanya sebatas memiliki hubungan kontrak kerja sama
dengan perusahaan pemilik jet pribadi tersebut dalam kurun waktu yang sudah
ditentukan. Sebelumnya, Gilang sempat mengaku bahwa jet pribadi tersebut
merupakan kado pernikahan ke-8 miliknya.
Konten di atas pun menuai kritik dari warganet Indonesia. Aksinya ini dianggap telah berlebihan. Faktanya, estimasi harga yang dikeluarkan untuk naik taksi di Jepang tergantung dari jarak tujuan. Sehingga, membuka pintu taksi dan perlu membayar Rp1,4 juta tidaklah benar. Sedangkan untuk kepemilikan jet pribadi juragan 99, netizen seperti di prank (dibohongi) bahwa jet tersebut benar-benar miliknya.
Mengunggah sebuah konten di akun pribadi memang merupakan hak setiap orang. Namun, hal itu tentu saja membuat para pengguna medsos lain memiliki pandangan yang berbeda-beda.
Dampak Buruk Flexing
Kebiasaan pamer kekayaan dan harta
yang dimiliki kepada publik bisa meningkatkan sikap hidup konsumtif. Lantaran,
mereka akan selalu merasa dituntut untuk unjuk diri dengan kemewahan dan
kekayaan. Hal ini akan mendorong mereka meningkatkan kegiatan konsumsi yang
sebenarnya tidak terlalu perlu.
Mereka yang terjebak pada kondisi terobsesi untuk pamer kekayaan akan selalu terdorong untuk melakukan hal yang sama. Melarat tidak masalah, yang penting terlihat kaya dan digolongkan kaum sosialita. Banyak masyarakat yang menganggapnya sudah menjadi hal yang lazim. Bahkan dianggap hanya sekedar lelucon di media sosial, tanpa memandang bahaya besar pengaruhnya pada kepribadian seseorang.
Disamping itu minimnya rasa empati kepada sesama di tengah kondisi ekonomi, sosial, dan kesehatan masyarakat di berbagai tempat yang belum stabil akibat wabah pandemi covid-19, rasanya tidak pantas jika ada orang-orang yang bersuka ria pamer harta. Sementara, di kanan dan kirinya banyak orang merasa kesusahan.
Faktanya, berdasarkan data Bappenas, sebagian penduduk Indonesia hingga kini masih mengalami gizi buruk, stunting, dan obesitas. Berdasarkan Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2018 yang dilakukan setiap lima tahun sekali, prevalensi kurang gizi di Indonesia mencapai angka 17,7% kasus balita kekurangan gizi dan jumlah tersebut terdiri dari 3,9% gizi buruk dan 13,8% gizi kurang (Kemenkes, 2018).
Banyak orang yang merasa punya banyak harta jadi punya kecenderungan untuk pamer. Sadar tidak sadar yang tadinya hanya sesekali pamer jadi terbiasa selalu ingin pamer. Maka dari itu, kebiasaan flexing dinilai lebih banyak negatifnya dan untuk mengubahnya butuh kontrol diri.
Caranya, dengan ganti pola pikir yang tadinya hanya fokus ingin terkenal dan ingin diterima pergaulan kelas atas, diubah menjadi fokus mengenali kekuatan dan kebaikan apa yang kalian miliki selain harta dan barang mewah. Kenali “kekayaan” yang kalian miliki yang sifatnya lebih kekal daripada harta dan barang. Serta, naikkan level empati antar sesama akan lebih baik kalau bisa memposisikan diri is it nice buat pamer harta saat kebanyakan orang berjuang untuk mencukupi hidup mereka.
Akan lebih bijak juga kalau sebelum flexing, dipikirkan dulu apa benar semua orang yang melihat tindakan kalian akan terkesan. Atau justru ternyata orang lain terganggu melihat kalian pamer harta kok kayak less care dengan kondisi sosial sekitar kita.
Tentu saja atas nama kemanusiaan, ada rasa empati dan simpati terhadap kesulitan dan kesusahan orang lain. Maka, perilaku flexing di media sosial secara berlebihan, bisa dipandang kurang etis.
